حد ثنا عبد الله حدثنى أبى ثنا أبواليمان أنا شعب قال ثنا عبد الله بن أبى حسين حدثنا شهر بن حوشب عن عامر أوأبى مالك أن النى صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس فى مجلس فيه أصحا به جاءه جبر يل عليه وسلام فى غير صورته يحسبه رجلامن المسلمين فسلم عليه فردعليه السلام ثم وضع جبر يل يده على ركبتى النبى صلى الله عليه وسلم وقال له يا رسول الله ماالا سلام فقال ان تسلم وجهك لله وان تشهد ان لااله الا الله وان محمد ا عبده ورسوله وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة قال فاذا فعات ذلك فقدأ سلمت قال نعم ثم قال ما الا يمان قال ان تؤمن بالله واليوم الاخر والملا ئكة والكتاب والنبيبن والموت والحياة بعدالموت والجنة والنار والحساب والميزان والقدركاخيره وشر قال فاذافعات ذلك فقدا منت قل نعم ثم قال ماالا حسان يارسول الله قال ان تعبدالله كانك تراه فانك ان كنت لاتراه فهو يراك قال فاذا فعلت ذلك فقدأ حسنت قال نعم ونسمع رجع رسول الله صلى الله وسلم اليه ولا يرى الذى يكلمه ولايسمع كلامه قال فتى الساعة يارسول الله فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم سحجان الله خمس من الغيب لا يعلها الاالله عزوجل ان الله عنده علم الساعة ينزل لغيث ويعلم مافى الارحام وما تدرى نفس ماذا تكسب غداوماتدرى نفس باى أرض تموت ان الله عليه خبير فقال السائل يارسول الله ان شئت حدثنك ابعلا متين تسكونان قبلها فقال حدثنى فقال اذا رأيت الامة تلدو بهاو يطول أهل البنيان بالبنيان وعادالعالة الحفاة رؤس الناس قال ومن أولئسك يرسول الله قال لعريب قال ثم لى فلمالم يرطر يقه بعد قال سبحان الله ثلاثا هذاجبريل جاءليعلم الناس دينهم والذى نفس محمد بيده ماجاءنى قط الاوأناأعرفه الاان تكون هذهالمرة Terjemahannya: “Umar ibn al-Khatthâb meriwayatkan: pada suatu hari ketika kami berada di dekat Rasulullah saw., tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda dalam perjalanan dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Sampai ia duduk di dekat Nabi SAW. lalu ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas paha Nabi, lantas berkata, "Hai Muhammad! Beritahukan kepada saya tentang Islam! Rasulullah saw. bersabda: Islam itu adalah pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan menunaikan haji bagi orang yang sanggup. Lelaki itu berkata: Engkau benar. Umar berkata, 'kami tercengang melihatnya, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya'. Selanjutnya laki-laki itu berkata lagi: Beritahukan kepada saya tentang iman! Rasulullah saw. menjawab: Iman itu adalah keyakinan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat dan qadar baik dan buruk. Laki-laki itu berkata: Engkau benar. Selanjutnya, ia berkata lagi: Beritahukan kepada saya tentang ihsan! Rasulullah saw. menjawab: ihsan itu adalah Engkau menyembah Allah seakan-akan Engkau melihatnya. Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka rasakanlah bahwa Dia melihatmu….”...

Minggu, 23 September 2012

KONSEP DASAR THAHARAH

-->
KONSEP DASAR THAHARAH
Disusun oleh: Zainal Masri

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM..
A.    Pengertian dan dasar hukum thaharah
1.     Pengerian thaharah
a.      Menurut bahasa dan istilah
Didalam buku fiqih tujuh mazhab karangan mahmud saltut ali asyi sais,(2000, halaman 31), Secara bahasa thaharah artinya bersuci dari sesuatu  yang kotor, baik yang kotor itu bersifat hissy (dapat di rasakan oleh indra) maupun maknawi (tidak dapat dirasakan oleh indra) ( H. Ahmad thib dan hj. Siti musdah mulia,  2003:120)
b.     Pengertian thaharah Menurut para ulama
Ø  Ulama fiqih
Thaharah adalah membersihkan diri dari segala hal baik hadas maupun najis yang menghalangi seseorang untuk melakukan sholat, dengan menggunakan air atau tanah.
Ø  Menurut al-hanafiah
Bersih dari hadas dan najis
Ø  Menurut al-malikiyah
Suatu sifat yang menurut pandangan syara membolehkan orang yang mempunyai sifat itu mengerjakan sholat dengan pakaian yang dikenakananya di tempat yang ia gunakan untuk mengerjakan shoalat
Ø  Menurut As-syafiiah
a.      Suatu perbuatan yang membolehkan seseorang mengerjakan sholat seperti whudu, mandi dan menhilangkan najis.
b.     Hilangnya hadast, najis atau semisalnya seperti tayamum dan mandi sunat
2.     Dasar hukum thaharah
1.  Al-qur’an
Diantara ayat al-quran yang menjadi hukum thaharah ini adalah
 Qs. Almudatsir ayat 4-

Artinya: dan pakaianmu bersihkanlah dan berhala tinggalkanlah.
QS. Almaidah ayat 6

-->
Hukum Air

Empat macam air itu adalah:
  1. Air Muthlaq, seperti air hujan, air sungai, air laut; hukumnya suci dan mensucikan
  2. Air Musta’mal, yaitu air yang lepas dari anggota tubuh orng yang sedang berwudhu atau mandi, dan tidak mengenai benda najis; hukumnya suci seperti yang disepakati para ulama, dan tidak mensucikan menurut jumhurul ulama
  3. Air yang bercampur benda suci, seperti sabun dan cuka, selama percampuran itu sedikit tidak mengubah nama air, maka hukumnya masih suci mensucikan, menurut Madzhab Hanafi, dan tidak mensucikan menurut Imam Syafi’i dan Malik.
  4. Air yang terkena najis, jika mengubah rasa, warna, atau aromanya, maka hukumnya najis tidak boleh dipakai bersuci, menurut ijma’. Sedang jika tidak mengubah salah satu sifatnya, maka mensucikan, menurut Imam Malik, baik air itu banyak atau sedikit; tidak mensuciakn menurut Madzhab Hanafi; mensucikan menurut Madzhab Syafi’i jika telah mencapai dua kulah, yang diperkirakan sebanyak volume tempat yang berukuran 60 cm3.
Su’r (sisa) yaitu air yang tersisa di tempat minum setelah diminum:
  1. Sisa anak Adam (manusia) hukumnya suci, meskipun ia seorang kafir, junub, atau haidh.
  2. Sisa kucing dan hewan yang halal dagingnya, hukumnya suci.
  3. Sisa keledai dan binatang buas, juga burung, hukumnya suci menurut madzhab Hanafi.
  4. Sedangkan sisa anjing dan babi, hukumnya najis menurut seluruh ulama
Najis dan Cara Membersihkannya
1.. Najis
Najis adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh setiap muslim, dengan mencuci benda yang terkena.
Macam najis:
  1. Air kencing, tinja manusia, dan hewan yang tidak halal dagingnya, telah disepakati para ulama. Sedangkan kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya, hukumnya najis menurut madzhab Hanafi dan Syafi’i; dan suci menurut madzhab Maliki dan Hanbali.
  2. Madzyi, yaitu air putih lengket yang keluar ketika seseorang sedang berpikir tentang seks dan sejenisnya.
  3. Wadi, yaitu air putih yang keluar setelah buang air kecil.
  4. Darah yang mengalir. Sedangkan yang sedikit di-ma’fu. Menurut madzhab Syafi’i darah nyamuk, kutu, dan sejenisnya dima’fu jika secara umum dianggap sedikit.
  5. Anjing dan babi
  6. Muntahan.
  7. Bangkai, kecuali mayat manusia, ikan dan belalang, dan hewan yang tidak berdarah mengalir.
2. Menghilangkan najis
Jika ada najis yang mengenai badan, pakaian manusia, atau lainnya, maka wajib dibersihkan. Jika tidak terlihat, maka wajib dibersihkan tempatnya sehingga dugaan kuat najis telah dibersihkan. Sedangkan pembersihan bejana yang pernah dijilat anjing, wajib dibasuh dengan tujuh kali dan salah satunya dengan debu.
Sedangkan sentuhan anjing dengan fisik manusia, tidak membutuhkan pembersihan melebihi cara pembersihan yang biasa . Sedang najis sedikit yang tidak memungkinkan dihindari, hukumnya dimaafkan. Demikianlah hukum sedikit darah dan muntahan. Diringankan pula hukum air kencing bayi yang belum makan makanan, hanya cukup dengan diperciki air.
3. Adab Buang Hajat
Jika seorang muslim hendak buang hajat, maka harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
  1. Tidak membawa apapun yang ada nama Allah, kecuali jika takut hilang.
  2. Membaca basmalah, isti’adzah ketika masuk, dan tidak berbicara ketika ada di dalamnya.
  3. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya. Hal ini harus menjadi perhatian setiap muslim jika membangun kamar mandi.
  4. Jika sedang berada di perjalanan, tidak boleh melakukannya di jalan, atau di bawah teduhan. Harus menjauhi liang hewan.
  5. Tidak kencing berdiri, kecuali jika aman dari percikan (seperti kencing di tempat kencing yang tinggi; urinoir)
  6. Wajib membersihkan najis yang ada di organ pembuangan dengan air atau dengan benda keras lainnya, tidak dengan tangan kanan. Membersihkan tangan dengan air dan sabun jika ada.
  7. Mendahulukan kaki kiri ketika masuk dengan membaca:
    اللهمّ إني أعوذ بك من الخبث والخبائث وأعوذ بك ربي أن يحضرون “, dan keluar dengan kaki kanan sambil membaca: غفرانك

Tata cara wuduk
Dalam suatu hadits dikatakan
وَعَنْ حُمْرَانَ أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ : رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


       Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. Muttafaq Alaihi.    















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar