حد ثنا عبد الله حدثنى أبى ثنا أبواليمان أنا شعب قال ثنا عبد الله بن أبى حسين حدثنا شهر بن حوشب عن عامر أوأبى مالك أن النى صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس فى مجلس فيه أصحا به جاءه جبر يل عليه وسلام فى غير صورته يحسبه رجلامن المسلمين فسلم عليه فردعليه السلام ثم وضع جبر يل يده على ركبتى النبى صلى الله عليه وسلم وقال له يا رسول الله ماالا سلام فقال ان تسلم وجهك لله وان تشهد ان لااله الا الله وان محمد ا عبده ورسوله وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة قال فاذا فعات ذلك فقدأ سلمت قال نعم ثم قال ما الا يمان قال ان تؤمن بالله واليوم الاخر والملا ئكة والكتاب والنبيبن والموت والحياة بعدالموت والجنة والنار والحساب والميزان والقدركاخيره وشر قال فاذافعات ذلك فقدا منت قل نعم ثم قال ماالا حسان يارسول الله قال ان تعبدالله كانك تراه فانك ان كنت لاتراه فهو يراك قال فاذا فعلت ذلك فقدأ حسنت قال نعم ونسمع رجع رسول الله صلى الله وسلم اليه ولا يرى الذى يكلمه ولايسمع كلامه قال فتى الساعة يارسول الله فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم سحجان الله خمس من الغيب لا يعلها الاالله عزوجل ان الله عنده علم الساعة ينزل لغيث ويعلم مافى الارحام وما تدرى نفس ماذا تكسب غداوماتدرى نفس باى أرض تموت ان الله عليه خبير فقال السائل يارسول الله ان شئت حدثنك ابعلا متين تسكونان قبلها فقال حدثنى فقال اذا رأيت الامة تلدو بهاو يطول أهل البنيان بالبنيان وعادالعالة الحفاة رؤس الناس قال ومن أولئسك يرسول الله قال لعريب قال ثم لى فلمالم يرطر يقه بعد قال سبحان الله ثلاثا هذاجبريل جاءليعلم الناس دينهم والذى نفس محمد بيده ماجاءنى قط الاوأناأعرفه الاان تكون هذهالمرة Terjemahannya: “Umar ibn al-Khatthâb meriwayatkan: pada suatu hari ketika kami berada di dekat Rasulullah saw., tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda dalam perjalanan dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Sampai ia duduk di dekat Nabi SAW. lalu ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas paha Nabi, lantas berkata, "Hai Muhammad! Beritahukan kepada saya tentang Islam! Rasulullah saw. bersabda: Islam itu adalah pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan menunaikan haji bagi orang yang sanggup. Lelaki itu berkata: Engkau benar. Umar berkata, 'kami tercengang melihatnya, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya'. Selanjutnya laki-laki itu berkata lagi: Beritahukan kepada saya tentang iman! Rasulullah saw. menjawab: Iman itu adalah keyakinan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat dan qadar baik dan buruk. Laki-laki itu berkata: Engkau benar. Selanjutnya, ia berkata lagi: Beritahukan kepada saya tentang ihsan! Rasulullah saw. menjawab: ihsan itu adalah Engkau menyembah Allah seakan-akan Engkau melihatnya. Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka rasakanlah bahwa Dia melihatmu….”...

Senin, 24 September 2012

ILMU PENGETAHUAN

-->
ILMU PENGETAHUAN
Disusun oleh: Zainal Masri

MAHASISWA STAIN BATUSANGKAR

1.     Urgensi Pembahasan
Didalam buku yang berjudul, islam, aqidah dan syari’ah karangan KH. \Zainal Arifin djamaris,(1996) kata ‘ulama.u, adalah jamak dari ‘alimun, atau ‘alima,
menurut ustad abdul hamid, dalam buku ushul al-bayan halaman 7, defenisinya atau takrifnya demikian, ilmu itu adalah suatu sifat yang dapat terungkap dengannya suatu yang dicari atau yang di bahas dengan ungkapan –ungkapan yang sempurna.
Dengan berpedoman kepada defenisi diatas teranglah bahwa jika suatu ilmu itu tidak tuntas dan tidak bisa siap pakai, apalagi bertalian dengan masalah agama,tentu saja hasil dari ilmu itu tidak akan dapat di amalkan.
Didalam al-qur’an dan hadits banyak sekalali ayat atau hadits yang menerangkan bukti-bukti mengenai keutamaan ilmu pengetahuan ini. Diantaranya adalah firman allah dalam surat annisa: 83

#sŒÎ)ur öNèduä!%y` ֍øBr& z`ÏiB Ç`øBF{$# Írr& Å$öqyø9$# (#qãã#sŒr& ¾ÏmÎ/ ( öqs9ur çnrŠu n<Î) ÉAqߧ9$# #n<Î)ur Í<'ré& ̍øBF{$# öNåk÷]ÏB çmyJÎ=yès9 tûïÏ%©!$# ¼çmtRqäÜÎ7/ZoKó¡o öNåk÷]ÏB 3 Ÿwöqs9ur ã@ôÒsù «!$# öNà6øŠn=tã ¼çmçGuH÷quur ÞOçF÷èt6¨?]w z`»sÜøŠ¤±9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÌÈ  

Artinya: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amr  di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).
 Jadi demikian pentingnya ilmu pengetahuan itu, bahkan  mengenai hukum dalam segala kejadian yang berlangsung, senantiasa di kembalikan kepada orang-orang yang berilmu pengetahuan, bahkan martabat mereka itu disusul setingakat kemudian sesudah martabat para nabi dalam mengkasyafkan hukum allah SWT,
Dalam hadits nabi dikatakan”kalau kita menginginkan bahagia didunia  maka kuasailah ilmu, kalau kita ingin bahagia di ahirat maka kuasailah ilmu, kalau kita ingin ke dua-duanya juga harus dengan ilmu.






2.     Ruang lingkup Pembahasan
Adapun yang menjadi ruang linkup dari pembahasan tetang ilmu ini adalah
1.     Perintah menuntut ilmu
2.     Ulama adalah warisan para nabi
3.     Keutamaan Belajar
4.     Keutamaan Mengajar
5.     Pentinya ilmu
6.     Ancaman Untuk yang  Menyembunyikan Ilmu




































BAB II

ISI


1.     Hadis-Hadis Tentang Perintah Menuntut Ilmu
عن ابْنُ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، فَإِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ ، وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِى فَرِيضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَحَداً يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا.[1]  رواه الدارمى والدارقطنى
a.   Terjemahan
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah saw. berkata kepadaku ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada orang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Alquran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban,  mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’
Hadist ini telah diteliti dan tel;ah ditelusuri ke dalam mu’jam alhadits dengan menggunakan potongan lafal عِلْمَsetelah ditelusuri diperoleh imformasi sebagai berikut
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُو لْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ                                                                                                    
Dari imformasi mu’jam tersebut penulis merujuk ke kitab hadis dan didapatkan imformasi dari kitab sunan addarimi kitab mukadimah hadis no 24
b.   Penjelasan hadis dan ayat pendukung
Dalam hadis ini, ada tiga perintah belajar, yaitu perintah mempelajari ‘al-‘ilm’, ‘al-faraid’ dan ‘al-Qur’an’. Menurut Ibnu Mas’ud, ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syariat dan segala jenisnya. Al-Fara’id adalah ketentuan-ketentuan baik ketentuan Islam secara umum maupun ketentuan tentang harta warisan. Mempelajari Alquran mencakup menghafalya. Setelah dipelajari ajarkan pula kepada orang lain supaya lebih sempurna. Beliau memerintahkan agar sahabat mempelajari ilmu karena beliau sendiri adalah manusia seperti manusia pada umumnya. Pada suatu saat, beliau akan wafat. Dengan adanya orang mempelajari ilmu, ilmu pengetahuan itu tidak akan hilang.[2]
Mengingat pentingnya ilmu pengetahuan, dalam hadis di atas, setelah dipelajari, ia harus diajarkan kepada orang lain. Rasulullah saw. mengkhawatirkan bila beliau telah wafat dan orang-orang tidak peduli dengan ilmu pengetahuan, tidak ada lagi orang yang mengerti dengan agama sehingga orang akan kebingungan.
Selain perintah menuntut ilmu pengetahuan dalam hadis di atas, ada lagi hadis yang lebih tegas tentang kewajiban menuntut ilmu pengetahuan.
عن حسين بن علي قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ »[3] رواه والبيهقى الطبرانى وأبو يعلى والقضاعى و أبو نعين الأصبهاني
Husain bin Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Menuntut ilmu pengetahuan wajib bagi setiap orang Islam.
Dalam menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan, Allah menggunakan ungkapan yang bervariasi. Kadang-kadang Allah menggunakan perintah agar manusia membaca. Kegiatan membaca akan menghasilkan ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat dalam QS Al-'Alaq/96: 1-5. Kadang-kadang Allah memakai perintah mengamati fenomena alam semsesta. Pengamatan ini akan melahirkan ilmu pengetahuan pula. Ungkapan ini ditemukan antara lain dalam QS Al-Ghâsyiyah/88: 17-20. Di tempat lain, Allah menggunakan motivasi dengan ungkapan mengangkat derajat orang yang berilmu pengetahuan yang beriman. Motivasi ini akan mendorong orang untuk belajar. Pernyataan ini dapat dilihat antara lain dalam QS Al-Mujadilah/58: 11.
Perintah menuntut ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejalan dengan perintah Allah dalam Alquran. Dalam Alquran ditemukan ayat-ayat yang bermaksud perintah menuntut ilmu pengetahuan dan petunjuk-petunjuk tentang urgensi ilmu pengetahuan itu. Di ataranya:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الاِِْنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [العلق\96: 1-5]
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini dapat dijadikan sebagai alasan bahwa ilmu pengetahuan itu penting dalam kehidupan manusia. Allah memerintahkan agar manusia membaca sebelum memerintahkan melakukan pekerjaan dan ibadah yang lain.  Ayat ini juga menunjukkan karunia Allah SWT. kepada manusia sebab ia dapat menemukan kemampuan belajar bahasa. Tambahan lagi, manusia juga dapat mempelajari baca tulis, ilmu pengetahuan, keterampilan yang beragam, petunjuk dan keimanan, serta hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia sebelum diajarkan kepadanya.
Betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia tidak diragukan lagi. Dalam melaksanakan pekerjaan dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan. Dalam Alquran dapat dilihat bahwa setelah Allah menyatakan Adam sebagai Khalifah Allah di muka bumi, maka ia dipersiapkan dengan ilmu pengetahuan. Hal itu dimaksudkan agar Adam mampu mengemban tugasnya sebagai khalifah. Hal ini dapat dilihat antara lain dalam ayat:
وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ، قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ، قَالَ يَا آَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ. (البقرة\2: 31-33).
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Belajar nama segala sesuatu adalah belajar “kata-kata” yang melambangkan pengertian-pengertian atau konsep-konsep. Jadi, ketika kita menyebut kata hishân (kuda) atas sekumpulan hewan tertentu, berarti kita mempergunakan simbol bahasa yang menunjukkan pengertian atau konsep yang dapat diterapkan pada seluruh kuda lainnya. Atas dasar ini, kita memahami firman Allah SWT., “Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama,” dalam arti, Dia mengajarkan bahasa kepada Adam as. Allah SWT. menyebut bahasa dengan ungkapan ‘seluruh nama’, maksudnya Dia mengajari Adam nama-nama yang melambangkan konsep-konsep.
Belajar “nama” yang melambangkan konsep tertentu mencakup pengenalan sifat-sifat dan karakteristik yang mengikutsertakan semua satuan jenis yang tercakup oleh konsep tersebut. Jadi, pada saat kita belajar menggunakan kata hishân (kuda) untuk menunjukkan seluruh kuda yang kita lihat, sebelumnya kita telah belajar bahwa semua kuda yang pernah kita lihat mempunyai kesamaan sifat tertentu. Oleh karena itu, kita juga dapat memahami dan firman Allah SWT., “Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama” bahwa Allah SWT. juga telah mengajari Adam a.s. sifat-sifat, karakteristik, dan perbuatannya.[4]
Selain di atas terdapat pula ayat lain yang juga berarti perintah mencari ilmu pengetahuan, yaitu:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ. (التوبة\9: 122)
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Menurut Al-Marâghi, ayat tersebut merupakan isyarat tentang wajibnya melakukan pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya di tempat-tempat pemukiman serta memberikan pemahaman kepada orang-orang lain tentang agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga, mereka tidak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mukmin. Orang-orang yang beruntung adalah  orang yang memperoleh kesempatan untuk mendalami agama dengan maksud seperti ini. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dan tidak kalah tingginya dari kalangan pejuang yang mengorbankan harta dan jiwa dalam meninggikan kalimat Allah, membela agama dan ajaran-Nya. Bahkan, mereka boleh jadi lebih utama dari pejuang pada situasi lain ketika mempertahankan agama menjadi wajib ‘ain bagi setiap orang.[5]
Untuk lebih tegas dalam hadis riwayat Husain ibn Ali di atas, Rasulullah saw. menggunakan kata-kata wajib, harus (farîdhah). Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik menurut ukuran ajaran Islam. Bila ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau mencari ilmu, maka ia dipandang telah melakukan suatu pelanggaran, yaitu tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Akibatnya, tentu, mendapatkan kemurkaan Allah dan akhirnya akan masuk ke dalam neraka Allah. Karena begitu pentingnya ilmu pengetahuan itu, Rasulullah SAW. mewajibkan umatnya belajar.

c.          Analisis kependidikan
Dari kata ta’allamu, ini merupakan fiil amar’ yang berarti ada perintah, jadi itu merupakan salah salah satu alat pendidikan. Jadi dari hadis di atas nabi menyuruh kita agar menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan segala persoalan pun akan senantiasa dikembalikan kepada orang-orang yang berilmu.


2.     Hadis Tentang Keutamaan Belajar
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.[6] رواه مسلم والترمذى وأحمد والبيهقى
a.       Terjemahan
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga.
Hadist ini telah diteliti dan tel;ah ditelusuri ke dalam mu’jam alhadits dengan menggunakan potongan lafal عِلْم setelah ditelusuri diperoleh imformasinya dalam mu’jam jilid 3  halaman 5 sebagai berikut
                                                                                             سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ


...........................
Dari imformasi mu’jam tersebut penulis merujuk ke kitab hadis dan didapatkan imformasi dari kitab sunan addarimi kitab mukadimah hadis no 24




b.       Penjelasan Hadis Dan Ayat Pendukung
Menurut Ibn Hajar, kata طَرِيْقًا diungkapkan dalam bentuk nakirah (indefinit), begitu juga dengan kata ilmu yang berarti mencakup semua jalan atau cara untuk mendapatkan ilmu agama, baik sedikit maupun banyak.
Jadi apabila dikaitkan dengan ayat yang pertama turun yaitu surat al’alaq, “اقْرَأْ artinya baca, jadi untuk mendapatkan ilmu itu harus dengan banyak membaca. Contohnya allah menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, seluruhnya mengandung ilmu pengetahuan.
 سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا  (Allah memudahkan baginya jalan) Yaitu Allah memudahkan baginya jalan di akhirat kelak, atau memudahkan baginya jalan di dunia dengan cara memberi hidayah kepadanya untuk melakukan perbuatan yang baik yang dapat menghantarkannya menuju surga. Hal ini mengandung berita gembira bagi orang yang menuntut ilmu, bahwa Allah memudahkan mereka untuk mencari dan mendapatkannya, karena menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga.[7]
 Dalam hadis ini, Rasulullah saw. menggunakan pendekatan fungsional. Beliau memberikan motivasi belajar kepada para sahabat (umat)nya dengan mengemukakan manfaat, keuntungan dan kemudahan yang akan diperoleh oleh setiap orang yang berusaha mengikuti proses belajar. Kendatipun beliau tidak menggunakan kata perintah (fi'l al-amr), namun ungkapan ini dapat dipahami sebagai perintah. Bahkan sering motivasi dengan ungkapan seperti ini lebih efektif daripada perintah. Siapakah orang beriman yang tidak ingin mendapatkan kemudahan untuk masuk sorga? Jawabannya dapat ditebak, tidak ada. Artinya semua orang beriman itu akan ingin sekali mendapatkan fasilitas ini. Nah, caranya tempuhlah jalan atau ikutilah proses mencari ilmu dengan ikhlas karena Allah.
Anjuran yang terdapat dalam hadis ini sejalan dengan pernyataan Allah dalam Alquran. Firman Allah (QS Fathir/35: 28) yang terjemahannya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.
Al-Marâghi menjelaskan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya dan mematuhi hukuman-Nya hanyalah orang-orang yang mengetahui tentang kebesaran dan kekuasaan Allah atas hal-hal apa saja yang Dia kehendaki, dan bahwa Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena orang yang mengetahui hal itu, dia yakin tentang hukuman Allah atas siapa pun yang bermaksiat kepada-Nya. Maka dia merasa takut dan ngeri kepada Allah karena khawatir mendapat hukuman-Nya tersebut.
Sehubungan dengan ayat di atas, Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ عَائِشَةُ قَالَتْ: صَنَعَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئًا فَرَخَّصَ فِيهِ فَتَنَزَّهَ عَنْهُ قَوْمٌ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَخَطَبَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ قَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُونَ عَنِ الشَّىْءِ أَصْنَعُهُ ، فَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً.[8] رواه البخارى
“Rasulullah saw. melakukan sesuatu lalu beliau memberi rukhsah (keringanan) mengenai sesuatu itu. Namun ada suatu kaum yang menghindarinya. Ketika hal itu didengar oleh Nabi saw. Lalu beliau pun berkhutbah. Beliau memuji Allah lalu bersabda, ‘Kenapakah ada kaum yang menghindari sesuatu yang aku perbuat. Demi Allah sesungguhnya aku adalah yang paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya di antara mereka.” (H. R. Al-Bukhari dan Muslim).
Ada dasar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Hasan Al-Basri. Menurut Ibn Abbas, “Orang yang berilmu tentang Allah Yang Maha Pencipta di antara hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, memelihara wasiat-Nya dan yakin bahwa dia akan bertemu dengan-Nya dan memperhitungkan amalnya.”  Hasan Al-Basri berkata, “Orang yang berilmu ialah orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun dia tidak mengetahui-Nya, menyukai apa yang disukai oleh Allah dan menghindari apa yang dimurkai Allah.’ Kemudian Al-Basri membaca QS Fathir/35: 28.
Dari ayat, hadis dan atsar di atas dapat dipahami dengan jelas bahwa ilmu pengetahuan itu memudahkan orang menuju sorga. Hal itu mudah dipahami karena dengan ilmu, seseorang mengetahui akidah yang benar, cara-cara beribadah dengan benar, dan bentuk-bentuk akhlak yang mulia. Selain itu, orang berilmu mengetahui pula hal-hal yang dapat merusak akidah tauhid, perkara-perkara yang merusak pahala ibadah, dan memahami pula sifat dan akhlak-akhlak jelek yang perlu dihindarinya. Semuanya itu akan membawanya ke sorga di akhirat, bahkan kesejahteraan di dunia ini.
Selain hadis di atas, terdapat pula hadis semakna yaitu:
عن أبى دردائ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.[9] رواه الترمذى وأحمد والبيهقى وأبو داود والدارمى
Abu Dada’ berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan mencari  ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga. Seungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya pencari ilmu dimintakan ampun oleh orang yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan orang berilmu dari orang yang beribadah adalah bagaikan kelebihan bulan malam purnama dari semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya.
Dalam hadis di atas terdapat lima keutamaan orang menuntut ilmu, yaitu: (1) mendapat kemudahan untuk menuju sorga, (2) disenangi oleh para malaikat, (3) dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain, (4) lebih utama daripada ahli ibadah, dan (5) menjadi pewaris Nabi. Menuntut ilmu yang dimaksud di sini, menurut pengarang Tuhfat al-Ahwazi adalah mencari ilmu sedikit atau banyak yang menempuh jalan dekat atau jauh.
 Yang dimaksud dengan dimudahkan Allah baginya jalan menuju sorga adalah ilmunya itu akan memberikan kemudahan kepadanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menyebabkannya masuk sorga. Karena ilmunya, seseorang itu mengetahui kewajiban yang harus dikerjakannya dan larangan-larangan yang harus dijauhinya. Ia memahami hal-hal yang dapat merusak akidah dan ibadahnya. Ilmu yang dimilikinya membuat ia dapat membedakan yang halal dari yang haram. Dengan demikian,  orang yang memiliki ilmu pengetahuan itu tidak merasa kesulitan untuk mengerjakan hal-hal yang dapat membawanya ke dalam sorga.
Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada orang yang mencari ilmu. Malaikat telah mengetahui bahwa Allah sangat mengutamakan ilmu. Hal itu terbukti ketika mereka disuruh hormat kepada Adam setelah Adam menunjukkan kelebihan ilmunya kepada malaikat. Oleh sebab itu,  para malaikat merasa senang kepada orang-orang yang berilmu karena mereka dimuliakan oleh Allah.
Orang yang menuntut ilmu dimintakan ampun oleh makhluk-makhluk Allah yang lain. Ini merupakan ungkapan yang menunjukkan kesenangan Rasulullah SAW. kepada para pencari ilmu. Ilmu itu sangat bermanfaat bagi alam semesta, baik manusia maupun bukan manusia. Dengan ilmu pengetahuan yang disertai iman, alam ini akan selalu terjaga dengan indah. Penjagaan dan pengelolaan alam ini dapat dilakukan dengan ilmu pengetahuan. Jadi, orang yang memiliki ilmu dan menggunakannya untuk kebaikan alam semesta merupakan orang mulia yang pantas didoakan oleh penghuni alam ini.
Orang berilmu pengetahuan lebih utama daripada ahli ibadah. Keutamaannya diumpamakan oleh Rasulullah SAW. bagaikan kelebihan bulan pada malam purnama dari bintang. Keutamaan bulan malam purnama yang jelas dari bintang-bintang adalah dalam hal fungsi menerangi. Bulan itu bercahaya yang membuat dirinya terang dan dapat pula menerangi yang lain. Sedangkan bintang kurang cahayanya dan itu hanya untuk dirinya sendiri. Sifat seperti itu terdapat pula pada orang yang berilmu pengetahuan dan ahli ibadah. Orang yang berilmu pengetahuan dapat menerangi dirinya sendiri dengan petunjuk dan dapat pula menerangi orang lain dengan pengajarannya. Dengan kata lain, orang 'alim itu memberikan manfaat untuk dirinya dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
Orang yang berilmu dikatakan sebagai pewaris Nabi. Ini merupakan penghormatan yang sangat tinggi. Warisan Nabi itu bukan harta dan fasilitas duniawi, melainkan ilmu. Mencari ilmu berarti berusaha untuk mendapatkan warisan beliau. Berbeda dari warisan harta, untuk mendapatkan warisan Nabi tidak dibatasi pada orang-orang tertentu. Siapa saja yang berminat dapat mewarisinya. Bahkan, Rasulullah SAW. menganjurkan agar umatnya mewarisi ilmu itu sebanyak-banyaknya.
Dari hadis di atas terlihat bahwa Rasulullah SAW. mendidik umatnya untuk menjadi 'alîm, (jamaknya 'ulamâ') dengan pendekatan fusngsional. Pendekatan ini merupakan upaya memberikan materi pembelajaran dengan menekankan kepada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dan bimbingan untuk mendapatkan ilmu diharapkan berguna bagi kehidupan seseorang, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan sosial. Melalui pendekatan fungsional ini berarti peserta didik dapat memanfaatkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
c.   Analisis pemakalah
Mencari ilmu adalah  suatu aktivitas yang memiliki tantangan. Tantangan itu dapat berbentuk biaya, waktu, kesehatan, kecerdasan dan lain sebagainya. Orang yang mampu menghadapi tantangan itu adalah  orang yang memiliki keikhlasan dan semangat rela berkorban. Ada orang yang tidak sukses dalam menuntut ilmu karena tidak sabar dalam berjuang menghadapi tantangan. Ketika menuntut ilmu, seseorang tidak dapat mencari uang bahkan sebaliknya menghabiskan uang. Bagi orang yang tidak memiliki tabungan uang, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mencari ilmu pengetahuan terutama pada jalur pendidikan formal. Demikian juga dengan tantangan yang lain.
Bagi orang yang beriman, tantangan itu tidak perlu menjadi hambatan. Sebab selain tantangan, ia juga memiliki motivasi yang sangat besar. Orang-orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju sorga.



d.   Analisis kependidikan
Dari hadis diatas,nabi  mengajarkan kepada kita agar didalam kehidupan ini apapun tujuan yang akan  kita capai, kalau ditempuh dengan jalan menuntut ilmu allah akan memudahkan jalan untuknya kesorga, baik itu sorga dunia lebih-lebih lagi sorga ahirat.karena untuk mudah menjangkau dunia dan isinya itu adalah harus melalui pendidikan, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka dia akan semakin mudah untuk menjangkau dunia dan isinya. Kemudian untuk mencapai ahirat dan ridho allah adalah dengan prestasi ibadah. Beridah  itu juga harus dengan ilmu. Imam safii juga pernah berkata mencari ilmu itu lebih utama dari pada mengerjakan sunnah.


3.   Hadis Tentang Keutamaan Mengajar
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الاِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.[10] رواه مسلم وأحمد النسائي والترمذى والبيهقى
a.   Terjemahan
Abu Hurairah meriwatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila manusia telah meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.
Hadist ini telah diteliti dan tel;ah ditelusuri ke dalam mu’jam alhadits dengan menggunakan potongan lafal صَالِحٍ setelah ditelusuri diperoleh imformasinya dalam mu’jam jilid 3  halaman 336 sebagai berikut
انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ.... أَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ                                                          
Dari imformasi mu’jam tersebut penulis merujuk ke kitab hadis dan didapatkan imformasi dari kitab sunan addarimi kitab mukadimah hadis no 24

b.   Penjelasan hadis dan ayat pendukung
Dalam hadis di atas terdapat informasi bahwa ada tiga hal yang selalu diberi pahala oleh Allah pada seseorang kendatipun ia sudah meninggal dunia. Yaitu; (1) sedekah jariyah (wakaf yang lama kegunaannya), (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) doa yang dimohonkan oleh anak yang saleh untuk orang tuanya. Sehubungan dengan pembahasan ini adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh seseorang ('âlim) kepada orang lain dan tulisan (karangan) yang dimaksudkan oleh penulis untuk dimanfaatkan orang lain.[11]
Dari ulasan di atas terlihat ada dua bentuk pemanfaatan ilmu, yaitu dalam mengajar dan menulis. Mengajar adalah proses memberikan ilmu pengetahuan kepada orang yang belum tahu. Hasilnya, orang yang belajar itu memiliki ilmu pengetahuan dan dapat dimanfaatkannya dalam menjalani kehidupannya, baik untuk urusan hidup duniawi maupun untuk urusan ukhrawi. Demikian juga halnya dengan menulis. Orang yang berilmu pengetahuan dapat menularkan ilmunya dengan menulis buku dan sebagainya. Orang yang membaca karangan tersebut akan mendapatkan ilmunya kendatipun tidak pernah bertemu langsung. Kedua pekerjaan ini hanya dapat dilakukan bila seseorang mempunyai ilmu pengetahuan dan mau berbuat untuk mencerdaskan orang lain.


c.   Analisis kependidikan
Didalam hadis tersebut rasulullah SAW mendorong umatnya untuk membelanjakan rezki yang diberika kepada kita dijalan allah, seperti berimfak, bersedekah,dan lain sebagainya.akan tetapi untuk mendapatkan rezki tersebut, kita perlu berusaha, dan didalam kita berusaha itu harus mempunyai ilmu, atau membutuhkan pendidikan dan keahlian kusus untuk mendapatkanya.


4.     Hadis Tentang Urgensi Ilmu
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.[12] رواه البخاري  ومسلم وأحمد والترمذى والنسائى والدارمى والبيهقى والطبرانى
a.   Terjemahan
Abdullah bin Amru bin al-Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari semua hamba. Ia mengambil ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga apabila ulama habis, manusia akan mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Mereka ditanya (oleh umat) lalu berfatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan (umat).
Hadist ini telah diteliti dan tel;ah ditelusuri ke dalam mu’jam alhadits dengan menggunakan potongan lafal عِلْمَ setelah ditelusuri diperoleh imformasinya dalam mu’jam jilid 4  halaman 336
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ, يَنْتَزِعِ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ  ...



Dari imformasi mu’jam tersebut penulis merujuk ke kitab hadis dan didapatkan imformasi dari kitab sunan turmizi  kitab ‘allama hadis no 5 halaman 296 yaitu :



b.   Penjelasan hadis dan ayat pendukung
Hadis di atas memberikan paling tidak empat Informasi: (1) Allah akan mencabut ilmu dari hamba-Nya dengan cara mewafatkan ulama, (2) Setelah ulama tidak ada lagi, orang akan mengangkat si bodoh menjadi pemimpin, (3) Pemimpin yang bodoh akan berfatwa tanpa ilmu, dan (4) Fatwa pemimpin yang bodoh akan membawa kepada kesesatan.
Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa saat haji Wada’ Nabi SAW bersabda, “Pelajarilah ilmu sebelum datang masa punahnya ilmu tersebut.” Arabi berkata, “Bagaimanakah cara ilmu diangkat atau dipunahkan? Beliau bersabda, “Punahnya ilmu itu dengan punahnya para ulama (orang yang menguasai ilmu tersebut.”[13]
Menurut Ibnu Hajar, hadis ini berisi anjuran menjaga ilmu, peringatan bagi pemimpin yang bodoh, peringatan bahwa yang berhak mengeluarkan fatwa adalah pemimpin yang benar-benar mengetahui, dan larangan bagi orang yang berani mengeluarkan fatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.[14] Dengan demikian,  ilmu pengetahuan merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin dan ulama. Tanpa ilmu pengetahuan, seseorang tidak berhak menjadi pemimpin dan tidak boleh memberikan fatwa tentang apa pun. Bila hal itu terjadi juga, maka pemimpin dan rakyat banyak akan mengalami kesesatan.
Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW. tidak menggunakan kata perintah untuk mencari ilmu tetapi menjelaskan urgensi ilmu itu sendiri. Ungkapan ini berisi motivasi yang sangat keras agar umatnya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Memang kadang-kadang, motivasi seperti itu lebih efektif dari penggunaan kata perintah. Dengan demikian,  Rasulullah SAW. menggunakan motivasi untuk menimbulkan semangat para sahabat dalam belajar.
Sehubungan dengan urgensi ilmu dalam kehidupan manusia, Al-Gazali mengemukakan ucapan Umar ibn Khattab "Wafatnya 1000 abid yang beribadat malam dan berpuasa siang, lebih enteng dari meningalnya seorang berilmu yang tahu halal haram".[15] Tahu halal haram yang dimaksudkan di sini bukanlah sekedar tahu tanpa amal, melainkan mengamalkannya, dengan cara mencari yang halal dan menjauhi yang haram. Sebab pada hakikatnya, orang yang tahu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya.
Al-Ghazali menulis bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Sulaiman bin Nabi Daud as. telah disuruh memilih antara ilmu, harta dan kerajaan. Ia memilih ilmu. Lalu, ia dianugerahi harta dan kerajaan bersama dengan ilmu. Dengan ilmu, seseorang dapat memiliki harta yang banyak dan dapat pula melaksanakan tugas-tugas pemerintahan sehingga mendapat kepercayaan untuk menjadi pemimpin. Jadi, ilmulah sebenarnya yang paling penting.
Sehubungan dengan perbandingan ilmu dengan harta, Ali bin Abi Thalib berkata: Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu dapat menjagamu, sedangkan harta, engkaulah yang menjaganya. Ilmu berkuasa sedangkan harta dikuasai. Harta itu berkurang bila dibelanjakan, sedangkan ilmu itu bertambah bila disiarkan. Orang berilmu lebih utama dari orang yang hanya berpuasa, bersembahyang dan berjihad. Bila seorang berilmu meninggal, terdapatlah suatu lowongan dalam Islam yang hanya dapat diisi oleh penggantinya.
Ungkapan Ali di atas menunjukkan ketinggian dan urgensi ilmu dalam kehidupan manusia. Betapa urgensi ilmu pengetahuan tidak perlu diragukan lagi. Baik ayat dan hadis maupun fenomena alam telah menjelaskan hal itu. Oleh sebab itu,  seharusnya umat Islam berusaha keras untuk mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, baik untuk kepentingan pribadi maupun sosial, baik untuk dunia maupun akhirat.
c.   Analisis kependidikan
Dari hadis diatas rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya , agar  menuntut ilmu, terutama sekali adalah ilmu agama kepada orang yang menguasai ilmu tersebut, dan dalam hal ini yang disebut ulama, sebab ada hadis lain yang mengatakan bahwa rasulullah itu wafat beliau seolah- olah beliau berkata kepada para ulama, hai para ulama, aku meninggalkan kalian semua, aku tidak tinggalkan emas, berlian, kepada kalian semua tapi aku tinggalkan ilmu kepada kalian, kalian lah pewarisku, maka orang yang telah mengambilnya berarti ia telah mengambil keuntungan yang banyak.(HR.Abu daud, tarmizi, ibnu majah, dan ibnu hibban dalam sahihnya dan baihaki dari abu darda)[16]
Dalam hadis pembahasan ini dijelaskan bahwasanya allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sehingga makin banyak ulama wafat maka ilmu semakin banyak ditarik,sehinggga kalau bukan generasi muda kita yang akan bangkit mempelajari ilmu itu, maka akan celakanya umat nantinya akibatnya umat akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, yang akan memberikan fatwa  menyesatkan.

5.     Hadis Tentang Ancaman Untuk yang  Menyembunyikan Ilmu
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ  فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».[17] رواه أبو داود وأحمد
a.   Terjemahan
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya (tidak menjawabnya), Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti.
Hadist ini telah diteliti dan tel;ah ditelusuri ke dalam mu’jam alhadits dengan menggunakan potongan lafal عِلْمٍ  setelah ditelusuri diperoleh imformasinya dalam mu’jam jilid 4 halaman 317 sebagai berikut
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ  فَكَتَمَهُ...

Dari imformasi mu’jam tersebut penulis merujuk ke kitab hadis dan didapatkan imformasi dari kitab sunan turmizi  kitab ‘allama hadis no 5 halaman 296 yaitu :


b.      Penjelasan hadis dan ayat pendukung
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ».[18] رواه الترمذى
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui, lalu ia menyembunyikannya (tidak menjawabnya), ia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekangan api neraka.
Menurut pengarang 'Aun al-Ma'bud dan Tuhfat al-Ahwazi, Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang dibutuhkan oleh penanya dalam masalah agamanya, lalu ia sembunyikan dengan cara tidak menjawab atau tidak menulis, maka Allah akan memasukkan kekangan api neraka ke dalam mulutnya karena ia telah menahan dirinya untuk berbicara. Menurut Al-Khaththabiy, orang yang menahan diri dari berbicara disamakan dengan mengekang dirinya. Apabila ia mengekang lidahnya dari berbicara tentang kebenaran, menginformasikan ilmu dan menjelaskannya diazab di akhirat dengan kekangan api neraka. Hal ini berlaku pada ilmu yang jelas baginya kefarduannya. Misalnya: seseorang yang melihat/mengetahui seorang kafir yang mau masuk Islam dan berkata: ajarilah aku tentang Islam, apakah agama Islam itu? Bagaimana aku mengerjakan salat? Begitu juga masalah halal dan haram. Tidak termasuk ke dalam hal itu urusan yang tidak dharuriy (sangat dibutuhkan oleh manusia).[19]
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa dari segi urgensinya, ilmu itu terbagi kepada yang dharuri dan tidak dharuri. Ilmu yang termasuk kategori dharuri ini sama sekali tidak boleh disembunyikan. Artinya bila orang yang memiliki ilmu tersebut ditanya oelh orang yang membutuhkannya, ia wajib menjawab baik lisan atau tulisan. Akan tetapi bila ilmu kategori kedua (tidak dharuri), seperti ilmu tentang teknologi, ekonomi dan sebagainya, maka orang yang ditanya itu tidak wajib menjawabnya.
Orang yang menyembunyikan ilmu terutama ilmu syari'at seperti yang dikemukakan di atas diancam oleh Allah dengan laknat-Nya dan laknat mahluk-Nya sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ (البقرة\2: 159)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati.
Menurut Fakhr al-Dîn al-Râziy, ketentuan ayat ini berlaku bagi semua yang menyembunyikan agama kendatipun ia turun dalam kasus orang Yahudi dan Nasrani yang menyembunyikan isi Taurat ketika ditanya oleh orang-orang Anshar tentang sifat-sifat Nabi.[20] Mereka tidak mau menjawab dan menjelaskan sifat Nabi yang sudah dijelaskan oleh Allah dalam kitab Taurat.
M. Quraish Shihab mengemukakan bahwa ayat ini, walaupun turun dalam konteks kecaman terhadap orang-orang Yahudi, namun redaksinya yang bersifat umum menjadikannya kecaman terhadap setiap orang yang menyembunyikan apapun yang diperintahkan agama untuk disampaikan, baik ajaran agama maupun ilmu pengetahuan atau hak manusia.[21] Memang tidak semua yang kita ketahui harus disampaikan kepada orang lain karena tergantung kepada keadaan dan tidak juga semua pertanyaan harus dijawab.
c.   Analisis kependidikan
Sehubungan dengan kewajiban mengajar, Rasulullah saw. memperingatkan agar orang yang sudah memiliki ilmu pengetahuan ('âlim, ustaz, guru) agar tidak bakhil atau kikir dalam memberikan ilmunya,terutama ilmu agama, apalagi sampai menyembunyikannya.



















BAB III
PENUTUP

1.     Kesimpulan
Dari penjelasan hadis yang telah pemakalah paparkan di atas maka, secara umum dapat disimpulkan, bahwa agama islam merupakan agama yang universal, yang tidak hanya mengajarkan kepada kita untuk sholat, puasa, baca al-quran, tetapi islam juga mewajibkan kepada kita untuk berilmu pengetahuan dan berteknologi.
2.     Saran
Dilihat dari isi kandungan hadits yang pemakalah bahas, pemakalah mearasa bahwa pembahasan ini sangat bermanfaat bagi kita semua, kususnya bagi kami sebagai pemakalah, sebab pemakalah yakin kalau kita mempunyai sedikit banyaknya ilmu pengetahuan , maka seseorang itu akan sangat mudah untuk mencapai hidup bahagia di dunia dan di ahirat.















DAFTAR PUSTAKA
Alghazali imam ihya ulumuddi. Bimbingan untuk mencapai tingkat mukmin. Bandung:c.v. diponegoro
Djamari arifin zainal. Islam, aqidah dan syari,ah I.1996.Jakarta: PT.Grafindo persada
Al-Darimiy, Sunan ad-Darimi, jilid 1, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 252. Hadis dengan maksud yang sama juga diriwayatkan  Ad-Daruqutni dari Abi Sa’id. Lihat, Ali ibn Umar Abu al-Hasan ad-Daruquthni al-Baghdadi (selanjutnya disebut Al-Daruqutni),
 Sunan Al-Daruquthni,  juz 9, (Beirut: Dar al-Makrifah, 1966

Sya’b al-Iman, Juz 2, Beirut: Dar –Kutub al-‘Ilmiyah
Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, (selanjutnya disebut Al-Marâghi), Tafsir al-Maraghiy, Jilid 4, Juz 11, t.tp.: Dar al-Fikr
 Muhammad Rasyid Rida, Tafsîr al-Qur'ân al-Hakîm al-Syahîr bi Tafsîr al-Manâr, Jilid 11,Beirut: Dar al-Ma'rifah
Sunan al-Tirmiziy wa Huwa al-Jâmi’ al-Shahîh, Juz 1, Indonesia: Dahlan , t.th.
Al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-'Asqalâniy (Selanjutnya disebut Al-'Asqalâniy), Fath al-Bâriy Bi Syarh Shahîh al-Bukhâriy, Juz 1, (Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H = 1993), h. 302
Shahīh al-Bukhāriy, I, Indonesia: Dahlan
Sunan Abi Daud, juz 3,  Indonesia, Dahlan
Shahih Muslim, Juz 3, Indonesia: Dahlan
Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazaly, Ihya' 'Ulumiddin, Jilid 1, Terjemahan Maisir Thaib, dkk., Bukittinggi: Syamza Offset, 1980
Abi ath-Thayyib Muhammad Syams al-Haqq al-‘Azhîm Âbâdiy, ‘Awn al-Ma’bûd Syarh Sunan Abî  Dâwûd, Juz 8, h. 156; (Beirut: Dar al-Fikr, 1399 H = 1979 M), cet. ke-3, h. 487
Juz 6, h. 449 dalam Al-Maktabah al-Syamilah..
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Volume 1, Cet. ke-1, Jakarta: Lentara Hati, 2000


KESIMPULAN HASIL DISKUSI
1.Asmarnita : ilmu apa saja yang di wajibkan menuntutnya menuru hadist?
2.Andi usman : bagaimana bagi orang yang ekonominya lemah,tdk bisa menuntut ilmu di sekolah, sedangkan menuntut ilmu itu adalah wajib?
3. Dina septika: Nilai- nilai pendidikan yang terkandung dalam hadis!
4. Darma hidayati: menuntut ilmu itu seperti apa?
v Fitra dewi : keutamaan mengajar dengan contohnya?
v Beni : Urgensi ilmu dalam hadis?
v 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar